Pamungkas Colloquium FEB UMM: Novita Ratna Satiti Beberkan Kunci Sakti UMKM Naik Kelas Lewat Literasi Ganda!

Rangkaian acara bergengsi Colloquium Post Doctoral Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) ditutup dengan manis dan sarat wawasan strategis. Tampil sebagai presenter pamungkas di penghujung sesi kedua, Novita Ratna Satiti, SE., MM., Ph.D., sukses memukau ratusan peserta melalui riset krusialnya yang bertajuk “Financial and Technological Literacies as Strategic Drivers of Sustainable SME Development: Toward an Inclusive and Competitive Economy”. Dalam paparannya, Novita menegaskan bahwa literasi keuangan dan literasi teknologi bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan sekadar pelengkap opsional. Melainkan, kedua hal tersebut adalah keharusan strategis untuk bisa bertahan dan berkembang di lanskap ekonomi modern. Dengan menggunakan kacamata teori Resource-Based View (RBV), doktor jebolan Universiti Sains Malaysia (USM) ini menjelaskan bahwa literasi ganda tersebut merupakan aset strategis tak berwujud (intangible strategic resources) yang membedakan UMKM tangguh dengan kompetitornya. Literasi keuangan berfungsi sebagai kompas dalam pengambilan keputusan yang rasional, sekaligus fondasi ketahanan ketika usaha dihantam guncangan. Di sisi lain, literasi teknologi bekerja sebagai akselerator transformasi digital yang memacu efisiensi dan katalis bagi inovasi produk maupun layanan. “UMKM yang menguasai kedua pilar ini tidak sekadar bertahan dari guncangan, tetapi mampu membangun keunggulan bersaing yang berkelanjutan,” tegas Novita dalam presentasinya. Keunggulan ini diyakini akan memberikan dampak luas berkonsep Triple Bottom Line, di mana UMKM tidak hanya mengejar profit (ekonomi), melainkan juga membawa dampak positif bagi penciptaan lapangan kerja yang layak (sosial), dan praktik usaha yang peduli pada efisiensi sumber daya (lingkungan). Pada akhirnya, semua ini bermuara pada penguatan ekonomi Indonesia yang inklusif, kompetitif, dan berkemajuan. Sukses Digelar, Dihadiri Ratusan Peserta Lintas Sektor Pemaparan bernas dari Novita ini sekaligus menjadi penutup dari seluruh rangkaian acara Colloquium Post Doctoral yang dilaksanakan pada Selasa, 14 April 2026. Bertempat di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Kampus 3 UMM, kolaborasi gagasan dari para pakar baru ini berlangsung sukses dan sangat interaktif. Kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi besar, yakni sesi pagi dan siang, di mana tiap sesinya menampilkan 3 orang presenter. Antusiasme audiens terbukti sangat tinggi dengan kehadiran sekitar 250 peserta pada masing-masing sesi. Peserta yang hadir tidak hanya didominasi oleh mahasiswa dan dosen, tetapi juga menyertakan perwakilan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), serta perwakilan strategis dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Suasana kolokium menjadi semakin hangat dan jauh dari kesan kaku berkat adanya pembagian doorprize di sepanjang acara. Hadiah-hadiah menarik ini diberikan kepada para peserta yang beruntung, serta diapresiasikan khusus bagi peserta yang berhasil menjawab kuis-kuis dari panitia dengan cepat dan tepat. Melalui kesuksesan ajang kolokium ini, Prodi Manajemen dan FEB UMM secara umum kembali membuktikan komitmennya dalam menghilirisasi riset akademik agar berdampak nyata bagi penguatan ekonomi masyarakat.
Awas Jebakan Tren Saham! Doktor Baru Manajemen UMM Fika Fitriasari Ungkap Kunci Sejahtera Finansial di Era Digital

Memasuki sesi kedua kegiatan Colloquium Post Doctoral di Aula GKB 4 Lantai 9, Kampus 3 UMM, pada Selasa (14/4) berlangsung pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, antusiasme peserta Colloquium Post Doctoral FEB UMM tidak sedikit pun surut. Sesi siang ini menampilkan tiga srikandi akademisi tangguh, yakni Sri Wahyuni Latifah, Ph.D. dari Program Studi Akuntansi, serta dua doktor baru kebanggaan Program Studi Manajemen, Fika Fitriasari, Ph.D. dan Novita Ratna Satiti, Ph.D. Salah satu pemaparan yang paling menyita perhatian pada sesi ini dibawakan oleh Fika Fitriasari, Ph.D. Melalui riset bertajuk “Perilaku Perdagangan Saham Digital di Indonesia: Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Finansial di Era Transformasi Teknologi”, ia mengupas tuntas fenomena investasi digital yang kian menjamur di masyarakat. Dalam presentasinya, lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini membedah “pedang bermata dua” dari digitalisasi keuangan. Di satu sisi, kehadiran mobile banking, online trading, dan aplikasi fintech sukses mendemokratisasi akses investasi. Inklusi keuangan meningkat tajam karena kini siapa saja bisa berinvestasi hanya dari genggaman tangan. Namun, di balik kemudahan tersebut, Fika memberikan peringatan penting terkait tantangan psikologis dan perilaku (behavioral) yang kerap menjebak investor era digital. “Peningkatan aksesibilitas ini sering kali diikuti oleh bias perilaku seperti overconfidence (rasa percaya diri berlebih), herding behavior (perilaku ikut-ikutan tren), hingga pengambilan keputusan spekulatif. Hal-hal inilah yang justru dapat melemahkan, bahkan merusak kesejahteraan finansial seseorang,” tegas Fika dalam paparannya. Untuk mengatasi jebakan tersebut, riset ini mengusulkan sebuah jalur konseptual yang mengintegrasikan literasi digital, adopsi teknologi, dan perilaku investasi yang sehat. Menurut Fika, kesejahteraan finansial berfungsi sebagai fondasi penting agar keuangan digital benar-benar bisa berkontribusi pada stabilitas ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan. Hubungan ini sangat bergantung pada kuatnya literasi keuangan masyarakat dan dukungan regulasi. Sebagai penutup, Fika menyoroti urgensi langkah strategis dari pemangku kebijakan. Ia mendorong adanya regulasi fintech yang adaptif, masifnya edukasi literasi keuangan, serta sistem perlindungan investor yang lebih kuat. Melalui gagasan ini, keuangan digital diposisikan bukan sekadar inovasi teknologi semata, melainkan alat strategis untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan membangun ekonomi inklusif yang berpusat pada manusia.