Kehadiran Bus Trans Jatim di wilayah Malang Raya menjadi angin segar bagi sistem transportasi publik sekaligus penggerak roda ekonomi daerah. Menanggapi hal tersebut, Ratih Juliati, salah satu dosen senior di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memberikan analisis mendalam mengenai dampak strategis kebijakan ini.

Sebagai pengamat ekonomi UMM, Ratih menekankan bahwa operasional Trans Jatim bukan sekadar perpindahan orang, melainkan pemicu pertumbuhan ekonomi lokal yang signifikan melalui dua pendekatan teori manajemen: Manajemen Transportasi Publik dan Manajemen Destinasi Pariwisata.
Konektivitas sebagai Kunci Aksesibilitas
Dalam pandangannya pada acara Tribun Talks bertemakan “Transjatim untuk Dongkrak konomi dan wisata Malang Raya” di Rayz Hotel UMM pada Rabu, 17 Desember 2025, Ratih menjelaskan bahwa transportasi publik adalah tulang punggung aksesibilitas pariwisata.
“Secara teoritis, Trans Jatim berperan sebagai penghubung krusial antara pemerintah sebagai penyedia layanan dan masyarakat sebagai pengguna. Dengan tarif terjangkau dan fasilitas nyaman, kita melihat adanya pergeseran perilaku masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum,” jelas Ratih.
Ia mencatat bahwa antusiasme tinggi masyarakat yang terlihat dari okupansi bus yang sering penuh membuktikan bahwa faktor harga dan kenyamanan adalah daya tarik utama dalam memenangkan pasar transportasi di Malang Raya.
Mendorong Multiplier Effect bagi UMKM
Salah satu poin penting yang disoroti oleh dosen Manajemen ini adalah potensi munculnya multiplier effect (efek pengganda) ekonomi. Menurutnya, aktivitas ekonomi tidak hanya terjadi di dalam bus, tetapi merembet ke sepanjang rute yang dilalui.
“Penggerak ekonomi lokal mulai tampak di area terminal dan halte. Kami mendorong pemerintah daerah untuk menangkap peluang ini, misalnya dengan mengintegrasikan kios UMKM di titik-titik pemberhentian agar dampaknya benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat bawah,” tambahnya.
Dukungan terhadap Mobilitas Mahasiswa dan Keberlanjutan
Bagi lingkungan akademis, kehadiran Trans Jatim sangat strategis. Ratih menilai rute yang melewati pusat-pusat pendidikan akan sangat membantu mobilitas mahasiswa, baik lokal maupun internasional. Hal ini memberikan citra positif bagi Malang Raya sebagai kota pendidikan yang modern dan ramah akses.
Selain dampak ekonomi, Ratih juga menggarisbawahi tiga pilar pembangunan berkelanjutan yang terpenuhi:
- Ekonomi: Meningkatkan belanja masyarakat melalui kemudahan mobilitas antarwilayah (Malang-Batu).
- Sosial: Mempermudah mobilitas harian warga.
- Lingkungan: Menjadi solusi nyata untuk menekan angka kemacetan dan polusi udara di Malang Raya.

Harapan Kedepan
Menutup analisisnya, Ratih Juliati berharap jangkauan Trans Jatim terus diperluas dan dievaluasi secara berkala. “Jika konektivitas ini diperkuat, nilai pelayanan publiknya akan luar biasa. Ini adalah langkah konkret menuju manajemen kota yang lebih terintegrasi dan sejahtera,” pungkasnya.