Belakangan ini, layar televisi dan media sosial kita terus dibanjiri berita tentang nilai tukar rupiah yang kian melemah terhadap dolar AS. Bagi masyarakat awam, melihat grafik dolar yang terus meroket mungkin hanya memicu rasa cemas tanpa benar-benar tahu apa efek nyatanya. Paling-paling, kita hanya bergumam, “Wah, harga barang-barang impor bakal makin mahal, nih.”

Padahal, di dunia bisnis, naik-turunnya nilai mata uang adalah urusan hidup dan mati sebuah perusahaan. Jika tidak dikelola dengan ilmu yang tepat, guncangan sekecil apa pun pada kurs mata uang bisa membuat bisnis yang awalnya sehat langsung gulung tikar. Di sinilah peran krusial dari memahami cara mengelola uang secara strategis.
Menanggapi fenomena ini, Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D., dosen pakar di bidang Manajemen Keuangan Program Studi Manajemen, menjelaskan dengan bahasa yang sangat membumi mengenai pentingnya belajar manajemen keuangan di era penuh ketidakpastian ini.
Menurut Ibu Novita, memiliki pemahaman keuangan yang matang akan mengubah cara pandang kita saat melihat krisis ekonomi, dari yang semula hanya bisa panik, menjadi bisa berpikir taktis mencari jalan keluar.
“Belajar manajemen keuangan itu penting, apalagi sekarang rupiah lagi ngos-ngosan lawan dolar. Biar kalau kurs naik, kita nggak cuma panik lihat berita, tapi paham dampaknya ke biaya, harga, utang, laba, dan strategi bisnis,” ungkap Ibu Novita secara blak-blakan.
Lebih lanjut, lulusan doktor ini mengisyaratkan bahwa manajemen keuangan bukan sekadar teori menghitung uang di atas kertas. Di masa-masa sulit seperti sekarang, seorang manajer keuangan dituntut untuk jeli melihat efek domino dari melemahnya rupiah.
Misalnya, bagaimana perusahaan harus menyiasati biaya bahan baku yang membengkak, kapan waktu yang tepat untuk membayar utang dalam mata uang asing, bagaimana menentukan harga jual ke konsumen agar tidak rugi, hingga bagaimana menjaga agar perusahaan tetap bisa meraup laba. Semua keputusan besar itu membutuhkan fondasi ilmu keuangan yang kuat.
Dinamika dan strategi mengelola “napas” perusahaan inilah yang menjadi salah satu fokus utama yang dipelajari di Program Studi Manajemen. Demi menyiapkan generasi muda yang tidak hanya melek finansial tetapi juga mampu menjadi penyelamat bisnis di masa krisis, Prodi Manajemen menyediakan 4 bidang konsentrasi yang bisa dipilih mahasiswa sesuai minat mereka:
- Manajemen Keuangan: Pilihan tepat bagi Anda yang ingin mendalami analisis pasar modal, investasi, hingga strategi mengelola keuangan perusahaan di tengah fluktuasi ekonomi seperti yang dijelaskan oleh Ibu Novita.
- Manajemen Pemasaran: Mempelajari cara membaca perilaku konsumen digital, strategi branding, dan taktik penjualan modern.
- Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM): Fokus pada pengelolaan talenta, pengembangan potensi karyawan, dan struktur organisasi perusahaan.
- Manajemen Operasional: Mendalami efisiensi sistem produksi, logistik, dan pengelolaan rantai pasok (supply chain).
Dengan kurikulum yang selalu relevan dengan kondisi ekonomi terkini, mahasiswa Prodi Manajemen dididik untuk tidak sekadar menjadi penonton saat krisis terjadi, melainkan menjadi para pengambil keputusan yang cerdas, tenang, dan solutif.