ANALISIS PAKAR. Perkembangan media sosial terus mengubah cara konsumen mengambil keputusan pembelian. Salah satu fenomena yang kini menjadi perhatian para praktisi dan akademisi pemasaran adalah munculnya tren de-influencing, yaitu kecenderungan kreator konten memberikan ulasan yang lebih kritis, objektif, bahkan menyarankan audiens untuk tidak membeli suatu produk apabila dinilai tidak memberikan manfaat yang sepadan dengan harganya. Fenomena ini menandai pergeseran perilaku konsumen, khususnya Generasi Z, yang semakin mengutamakan keaslian informasi, transparansi, dan nilai guna dibandingkan sekadar mengikuti rekomendasi figur populer di media sosial.

Berbagai kajian, termasuk laporan dari McKinsey & Company serta pembahasan di Harvard Business Review, menunjukkan bahwa meningkatnya sikap kritis konsumen dipengaruhi oleh kejenuhan terhadap promosi digital yang berlebihan serta semakin tingginya ekspektasi terhadap integritas sebuah merek. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas produk, tetapi juga memperhatikan kualitas, pengalaman pengguna, keberlanjutan, hingga kesesuaian antara pesan pemasaran dengan kondisi produk yang sebenarnya. Perubahan ini mendorong perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih autentik dengan pelanggan melalui komunikasi yang jujur dan berorientasi pada nilai.
Menurut perspektif keilmuan manajemen pemasaran, fenomena de-influencing menjadi sinyal bahwa strategi pemasaran digital perlu bergeser dari pendekatan yang berfokus pada promosi menuju penciptaan pengalaman pelanggan (customer experience) yang positif. Reputasi merek, kualitas produk, pelayanan yang konsisten, serta ulasan pelanggan yang autentik kini menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan sebuah strategi pemasaran. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk mengembangkan konsep authentic marketing, yaitu komunikasi pemasaran yang mengedepankan edukasi, transparansi, empati, dan kemampuan membangun kepercayaan jangka panjang dengan konsumen.
Pemahaman terhadap dinamika perilaku konsumen digital tersebut menjadi salah satu fokus pembelajaran di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM), khususnya pada bidang Manajemen Pemasaran. Mahasiswa dibekali kemampuan untuk menganalisis perubahan tren pasar, memahami psikologi konsumen, serta merancang strategi pemasaran digital yang adaptif, inovatif, dan beretika. Kompetensi tersebut diperkuat melalui integrasi dengan bidang Manajemen Keuangan, Manajemen Sumber Daya Manusia, dan Manajemen Operasi, sehingga lulusan memiliki perspektif bisnis yang komprehensif dalam menghadapi transformasi ekonomi digital. Selain itu, dukungan program Center of Excellence (CoE) di bidang Tourism and Hospitality serta Supply Chain Management semakin memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dalam mengembangkan strategi bisnis yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini.