ANALISIS PAKAR. Tren revenge travel atau lonjakan wisata masif pascapandemi, telah berakhir secara global. Berdasarkan laporan McKinsey & Company bertajuk The State of Travel 2024, para pelancong kini jauh lebih selektif akibat tekanan ekonomi makro, inflasi, dan meningkatnya biaya hidup. Laporan tersebut menegaskan bahwa industri pariwisata yang ingin bertahan wajib beralih dari sekadar menjual destinasi massal (mass tourism) menuju penyediaan pengalaman yang personal, berkelanjutan (sustainable), dan terintegrasi secara digital.

Merespons pergeseran lanskap tersebut, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa pelaku industri pariwisata domestik di Indonesia tidak boleh lagi mengandalkan cara promosi konvensional. Menurutnya, pengelola destinasi, perhotelan, hingga agen perjalanan harus mampu menerapkan konsep Value-Based Tourism. Strategi ini mencakup tata kelola operasional yang ramah lingkungan, peningkatan standar pelayanan berbasis kearifan lokal, serta optimalisasi pemasaran digital guna menangkap segmen pasar ceruk (niche market) yang terbukti lebih loyal di tengah ketidakpastian ekonomi.
Analisis strategis dan solusi tata kelola sektor jasa ini menjadi fokus utama yang dikembangkan oleh Program Studi Manajemen UMM melalui program unggulannya, Center of Excellence (CoE) Tourism and Hospitality. Melalui CoE ini, mahasiswa dilatih secara intensif oleh para praktisi industri untuk menguasai manajemen destinasi dan perhotelan modern. Kompetensi khusus ini disinergikan secara apik dengan kurikulum inti di konsentrasi Manajemen Pemasaran, Manajemen SDM, Manajemen Operasi, dan Manajemen Keuangan, memastikan lulusan Manajemen UMM siap diserap menjadi manajer serta inovator andal di sektor industri pariwisata nasional maupun global.
Sumber Referensi: Data Makro Global: McKinsey & Company Report (2024) – The State of Travel 2024: Moving Beyond Revenge Travel.