ANALISIS PAKAR. Eskalasi ketidakpastian geopolitik di berbagai belahan dunia menempatkan jaringan logistik global pada titik nadir yang rawan disrupsi. Berdasarkan data komprehensif Bloomberg Commodity Index terbaru, volatilitas harga komoditas dan energi internasional memicu pembengkakan biaya logistik (freight rates) secara masif. Kondisi eksternal yang ekstrem ini memaksa korporasi lintas negara untuk segera merombak total arsitektur distribusi mereka guna menghindari skenario terburuk: pembebanan biaya operasional pada harga jual akhir di tingkat konsumen (inflationary pressure).

Menelaah guncangan makroekonomi tersebut, pakar Manajemen Operasi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM menegaskan bahwa efek domino dari disrupsi global ini telah merambah sektor manufaktur dan ritel domestik. Di masa sulit ini, perusahaan dalam negeri tidak bisa lagi mengandalkan strategi konvensional. Mengacu pada teori Supply Chain Resilience (Resiliensi Rantai Pasok), korporasi harus menggeser paradigma dari Just-in-Time (efisiensi tanpa stok cadangan) menjadi Just-in-Case (manajemen risiko berbasis ketahanan). Perusahaan dituntut melakukan transformasi digital pada sistem pergudangan (smart warehousing) dan optimalisasi rute pengiriman guna mengamankan margin profitabilitas.
Dinamika riil industri yang kompleks inilah yang diadaptasi secara tangkas ke dalam ruang-ruang kelas di Prodi Manajemen UMM. Sadar bahwa industri membutuhkan talenta yang siap tempur menghadapi krisis logistik, Manajemen UMM membuka program unggulan Center of Excellence (CoE) Supply Chain Management.
Program akselerasi ini dirancang khusus melampaui kurikulum reguler Manajemen Operasi, di mana mahasiswa dimentori langsung oleh praktisi papan atas untuk menguasai global sourcing, mitigasi risiko vendor, hingga efisiensi last-mile delivery. Dikombinasikan dengan penguatan pada konsentrasi Manajemen Pemasaran, Keuangan, dan SDM, Prodi Manajemen UMM secara konsisten membuktikan komitmennya: melahirkan lulusan berwawasan makro-strategis yang tidak sekadar menghafal teori teks, tetapi menjadi problem solver yang solutif di tengah ketidakpastian industri global.