Bagi masyarakat awam, melihat berita “IHSG anjlok” di media massa mungkin terdengar seperti peringatan bencana ekonomi yang menakutkan. Padahal, jika kita memahami penyebabnya secara jernih, situasi ini justru bisa membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijak, baik sebagai investor maupun sebagai warga negara yang peduli pada kondisi negeri.

Sejak awal tahun 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sering disebut sebagai “termometer” kesehatan pasar saham Indonesia, memang sedang terus mengalami tekanan. Dalam hitungan bulan, indeks ini sudah tergerus lebih dari seperlima nilainya. Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi di lantai bursa kita?
Menanggapi fenomena ini, Novi Puji Lestari, S.E., M.M., dosen pengampu mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi (TPAI) Program Studi Manajemen, memberikan sudut pandang yang menarik. Menurutnya, penurunan tajam IHSG saat ini sebenarnya lebih didorong oleh faktor krisis kepercayaan pasar dan kepanikan investor, ketimbang hasil analisis teknikal maupun fundamental ekonomi secara umum.
“Secara keseluruhan, turunnya IHSG saat ini dipicu oleh panic selling dari para investor yang merasa khawatir. Pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan lebih cepat, bahkan sebelum kondisi ekonomi riil benar-benar membaik atau memburuk,” jelas Novi.
Novi membeberkan tiga poin utama yang memicu kekhawatiran para investor saat ini:
- Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Saat rupiah melemah terhadap dolar AS, aset-aset di Indonesia otomatis terlihat lebih berisiko bagi investor asing. Hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas posisi makroekonomi Indonesia.
- Krisis Kepercayaan Fiskal: Investor tidak hanya melihat data ekonomi di atas kertas, tetapi juga sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal dan daya tarik investasi Indonesia jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
- Dampak Ketidakpastian Global: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novi sendiri mengenai ketidakpastian global, faktor globalisasi membuat sekat antarnegara menjadi tipis. Gejolak politik atau ekonomi yang terjadi di belahan dunia lain seperti memanasnya perang dagang AS-China serta konflik di Timur Tengah, pasti akan ikut memberikan sentimen negatif ke pasar domestik, sekecil apa pun itu.
Meskipun saat ini kondisi pasar modal sedang fluktuatif akibat kepanikan global, pemerintah menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup solid. Hal ini membuktikan bahwa penurunan IHSG kali ini memang lebih didominasi oleh faktor psikologis pasar dan spekulasi, bukan karena kemerosotan ekonomi nasional yang nyata.
Fenomena dinamika pasar keuangan seperti inilah yang menjadi salah satu topik hangat yang dipelajari di Program Studi Manajemen. Di prodi ini, mahasiswa tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga diajak membedah kasus riil di dunia bisnis dan investasi. Untuk wadah pengembangan minat mahasiswa, Prodi Manajemen sendiri memiliki 4 bidang konsentrasi yang bisa dipilih sesuai dengan rencana karier masa depan, yaitu: Manajemen Keuangan (tempat Anda belajar mendalami analisis investasi dan pasar modal seperti kasus IHSG ini), Manajemen Pemasaran, Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), dan Manajemen Operasional.
Melalui pemahaman yang komprehensif di bangku kuliah, lulusan Manajemen diharapkan mampu menjadi analis dan pengambil keputusan yang cerdas serta tenang, bahkan di tengah situasi pasar yang sedang penuh ketidakpastian.