TIPS & EDUKASI. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, ijazah dan nilai akademik saja tidak lagi cukup untuk membuat lulusan baru unggul di mata perusahaan. Rekruter kini tidak hanya menilai kemampuan teknis (hard skills), tetapi juga jejak digital, portofolio, pengalaman organisasi, serta bagaimana seseorang mempresentasikan kompetensinya kepada publik. Oleh karena itu, membangun personal branding sejak masih menjadi mahasiswa menjadi salah satu investasi karier yang sangat penting.

Personal branding bukan berarti menciptakan citra palsu atau sekadar tampil menarik di media sosial. Sebaliknya, personal branding merupakan upaya strategis untuk menunjukkan identitas profesional, kompetensi, nilai, serta keunikan diri secara konsisten kepada khalayak. Dalam konteks mahasiswa, hal ini dapat dilakukan melalui publikasi karya, partisipasi dalam organisasi, kompetisi akademik, kegiatan magang, hingga aktivitas berbagi wawasan di platform profesional seperti LinkedIn.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa personal branding memiliki hubungan erat dengan tingkat employability atau peluang seseorang untuk memperoleh pekerjaan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Strategic Business Research menemukan bahwa personal branding berperan sebagai sinyal kompetensi yang dapat meningkatkan persepsi kelayakan kerja (perceived employability) seseorang di era digital. Penelitian tersebut menegaskan bahwa kemampuan menampilkan nilai diri, keahlian, dan identitas profesional secara tepat dapat meningkatkan daya saing individu di pasar tenaga kerja.

Selain itu, penelitian mengenai mahasiswa tingkat akhir juga menyimpulkan bahwa personal branding merupakan strategi penting untuk meningkatkan kesiapan kerja dan membangun identitas profesional sebelum memasuki dunia industri. Sayangnya, banyak mahasiswa yang telah menyadari pentingnya personal branding tetapi belum memiliki strategi yang jelas untuk membangunnya.

Menurut salah satu dosen pemasaran FEB, mahasiswa perlu mulai mengelola reputasi profesionalnya sejak dini. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain memperbarui profil LinkedIn secara berkala, membagikan pencapaian akademik, mendokumentasikan proyek kuliah, menulis opini mengenai isu bisnis terkini, hingga membangun jaringan profesional dengan alumni dan praktisi industri. Aktivitas tersebut akan membantu mahasiswa memiliki portofolio digital yang dapat diakses oleh calon pemberi kerja.

Urgensi membangun identitas profesional juga semakin relevan karena LinkedIn telah menjadi salah satu platform utama dalam proses rekrutmen. Berbagai survei menunjukkan bahwa mayoritas rekruter menggunakan LinkedIn untuk mencari, memverifikasi, dan menghubungi kandidat potensial. Bahkan, sebagian besar perusahaan besar memanfaatkan platform tersebut sebagai salah satu sumber utama pencarian talenta.

Kesadaran akan pentingnya kompetensi dan citra profesional ini turut difasilitasi oleh ekosistem akademik Program Studi Manajemen UMM. Melalui empat konsentrasi strategis, yaitu Manajemen Pemasaran, Manajemen Keuangan, Manajemen Sumber Daya Manusia, dan Manajemen Operasi, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keahlian yang lebih spesifik sesuai minat dan kebutuhan industri.

Tidak hanya itu, berbagai program sertifikasi kompetensi, magang, proyek bisnis, serta kelas profesional yang diselenggarakan program studi menjadi sarana bagi mahasiswa untuk membangun portofolio dan rekam jejak profesional yang kuat. Dengan demikian, lulusan Manajemen UMM diharapkan tidak hanya memiliki ijazah sebagai bukti kelulusan, tetapi juga personal branding yang mampu meningkatkan kepercayaan perusahaan dan memperbesar peluang memperoleh karier yang diinginkan.

Pada akhirnya, di era digital yang serba terbuka, pertanyaan yang tidak kalah penting dari “Apa yang Anda kuasai?” adalah “Bagaimana orang lain mengetahui bahwa Anda menguasainya?”. Di sinilah personal branding menjadi jembatan antara kompetensi yang dimiliki mahasiswa dengan peluang karier yang menanti setelah wisuda.