TIPS & EDUKASI. Menjadi mahasiswa rantau menuntut kemandirian yang tinggi, terutama dalam hal mengelola keuangan bulanan. Sudah menjadi rahasia umum jika tidak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan uang saku sudah menipis bahkan sebelum memasuki pertengahan bulan. Padahal, dengan perencanaan dan kontrol yang matang, alokasi dana kiriman dari orang tua sebenarnya bisa dikelola secara optimal, bahkan sebagian di antaranya dapat disisihkan untuk modal investasi masa depan.

Melihat fenomena musiman anak kos ini, salah satu dosen yang mendalami bidang manajemen keuangan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) membagikan kiat cerdas budgeting aplikatif yang bisa langsung dipraktikkan oleh mahasiswa:
-
Terapkan Formula Finansial 50/30/20: Bagi seluruh uang saku bulanan ke dalam tiga pos utama dengan persentase yang ketat.
-
50% untuk Kebutuhan Pokok (Needs): Alokasikan setengah dari uang saku untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti membayar sewa kamar kos, membeli makan sehari-hari, kuota internet kuliah, dan transportasi.
-
30% untuk Keinginan (Wants): Sisihkan porsi ini untuk kebutuhan sekunder atau hiburan, seperti nongkrong di kafe, langganan aplikasi hiburan, atau membeli pakaian baru. Ingat, pos ini boleh dipotong jika kebutuhan pokok membengkak.
-
20% untuk Tabungan dan Investasi (Savings/Investing): Di awal bulan setelah menerima kiriman, langsung potong 20% untuk ditabung atau dimasukkan ke instrumen reksa dana/saham sebagai dana darurat. Jangan menunggu sisa di akhir bulan!
-
-
Disiplin Pencatatan Arus Kas Digital (Cash Flow Tracking): Kebocoran keuangan mahasiswa sering kali terjadi pada pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak disadari (seperti biaya admin bank atau jajan camilan). Kuncinya adalah memanfaatkan aplikasi pengatur keuangan digital gratis yang banyak tersedia di smartphone untuk mencatat setiap rupiah yang keluar secara real-time.
-
Gunakan Skala Prioritas Teori Manajemen: Sebelum memutuskan membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut mendesak dan penting untuk menunjang perkuliahan, atau sekadar keinginan sesaat yang bisa ditunda.
Beliau menekankan bahwa kegagalan mengelola uang di masa kuliah biasanya bukan karena jumlah nominalnya yang kurang, melainkan karena absennya sistem kontrol diri yang baik dalam menahan pengeluaran konsumtif.
Penerapan literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari anak kos ini sebenarnya merupakan cerminan praktis skala kecil dari ilmu tata kelola bisnis yang dipelajari secara mendalam di bangku kuliah. Di Program Studi Manajemen UMM sendiri, topik mengenai pengelolaan aset, analisis investasi, hingga mitigasi risiko dipelajari secara komprehensif pada konsentrasi Manajemen Keuangan.
Selain dibekali keahlian finansial yang kuat, mahasiswa Manajemen UMM juga diberikan keleluasaan penuh untuk mengembangkan minat strategis lainnya melalui pilihan konsentrasi Manajemen Pemasaran, Manajemen SDM, dan Manajemen Operasi. Ditambah dengan kehadiran program unggulan Center of Excellence (CoE) Supply Chain Management serta Tourism and Hospitality, kurikulum Manajemen UMM sukses mencetak lulusan terampil yang memiliki pemikiran taktis dan strategis di berbagai sektor industri riil.